Earth hour Buat Kota Bandung Bikin Gerakan Hemat Energi

Bandung1.com / BandungSemaraknya peningkatan populasi dunia yang kini berjumlah 7 miliar jiwa telah berdampak besar pada keseimbangan bumi. Dunia kini menghadapai isu perubahan ekosistem lingkungan hingga penggunaan energy.

Hal itu disadari betul oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bandung Ema Sumarna. Usai menghadiri kegiatan Earth Hour tingkat Provinsi Jawa Barat di Trans Studio Mall, Sabtu (30/3/2019), Ema menjadi lebih memusatkan perhatian pada sektor lingkungan.
Bagi pria yang resmi dilantik sebagai Sekda pada 22 Maret 2019 lalu itu, Kota Bandung sebagai kota metropolitan harus mengambil peran dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung perlu mengantisipasi meningkatnya populasi yang berdampak besar pada lingkungan.
“Bumi ini sudah cukup berat apabila manusia sebagai penghuninya tidak melakukan keseimbangan terhadap situasi dan kondisi. Terutama yang berkenaan dengan masalah energi, masalah polusi, dengan masalah lingkungan. Kita harus menjaga perilaku yang bisa membuat bumi ini lebih baik,” katanya.
Oleh karena itu, ia ingin agar gerakan Earth Hour ini tidak sekedar seremonial, melainkan harus berdampak jangka panjang dan diimplementasikan lebih lanjut. Pemkot sebagai pemangku kebijakan memiliki peran strategis dalam menindaklanjuti gagasan penyelamatan lingkungan melalui Earth Hour ini.
Earth Hour merupakan gerakan mematikan lampu yang tidak dipakai selama 60 menit sebagai bentuk simbolis untuk mengurangi penggunaan energi yang berlebihan.
Earth Hour mengajak warga dunia untuk mengingat kembali pengaruh manusia terhadap planet bumi yang ditinggalinya.
Gerakan global ini telah dilaksanakan di 30 kota dan melibatkan 3000 relawan aktif serta meraih dukungan dari 2 juta simpatisan secara daring.
“Gerakan hemat energi ini walaupun cuma satu jam saya pikir ini manfaatnya akan sangat besar. Di Kota Bandung relawannya sudah sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita dalam posisi pemerintah ini memaksimalkan fungsi fasilitasi,” ucapnya.
Ema lantas menggagas sebuah gerakan masif untuk tidak hanya mengurangi penggunaan energi listrik. Lebih jauh, ia ingin ada pula gerakan untuk menekan penggunaan energi bahan bakar minyak serta mengurangi polusi akibat kendaraan bermotor.
Gagasannya adalah dalam satu bulan, ada satu hari warga diimbau untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor. Ia berharap momentum tersebut bisa dilaksanakan, misalnya, pada Hari Nyepi. Selain turut menghormati ibadah umat Hindu, warga kota juga bisa sekaligus menurunkan emisi dari penggunaan energi.
Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung untuk mengkajinya. Ema berharap masyarakat bisa merespon positif ide tersebut.
“Untuk sebuah ide dan mimpi kan kenapa tidak. Ini mudah-mudahan gagasan ini bisa diimplementasikan sehingga nanti pola hemat energi itu bisa dikombinasikan bukan hanya identik dengan pemadaman lampu,” ujarnya.
Apalagi, komitmen Pemkot Bandung dalam memperhatikan isu-isu lingkungan ini sudah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung. Dengan begitu, gagasan itu telah memiliki payung hukum yang jelas.
“Kepentingan (gerakan ini) tidak hanya energi listrik tetapi secara global kepentingannya lingkungan yang lebih luas. Kalau ini digagas di Bandung, karena komunitasnya banyak, relawannya banyak, saya pikir bukan sesuatu yang tidak mungkin,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *